Pengen tahu kisahnya?
Jalanan
pagi Los Angeles menyulitkan ospek hari terakhirnya yang kebetulan adalah hari
ulang tahunnya. Adalah Mischa, gadis blasteran Jepang-Indonesia yang kuliah di
Universitas Arftrold di Los Angeles.
“Sorry sir!! I’m hurry up…”Kata Mischa meminta maaf
atas kecerobohannya menabrak seseorang.
Sesampainya
di kampus, masih terlihat sepi. Mischa tampak lega. Namun, tiba-tiba seseorang
menepuk pundaknya dari belakang,
“Are you late, rookie??”Kata seorang senior.
“Me?? I’m sorry.”Jawab Mischa takut.
“Me?? I’m sorry.”Jawab Mischa takut.
“Follow me!!”
Mischa
pun mengikuti seniornya dan dia berhasil diberdirikan di depan teman-temannya
bersama seorang laki-laki yang berpakaian kaos oblong berwarna merah, jeans,
dan sepatu kets sederhana.
“Stay here!! Both of you are Indonesian!! Are you
not shy??”Bentak salah seorang senior.
Mischa
dan laki-laki itu hanya menunduk malu. Dan setelah ospek dilaksanakan,
laki-laki itu menyapa Mischa,
“Hai… Lo orang Indonesia?”Sapa laki-laki itu.
“Ya. Ehm, Gue Mischa, Lo?”Tanya balik Mischa.
“Gue Fiandra. Alifiandra Wovreen. Lo dari kota
mana? Gue dari Jakarta.”
“Gue Bandung. Hehe :D”
“Gue Bandung. Hehe :D”
Beberapa
obrolan terselesaikan. Mereka bertukaran nomor hp dan nama facebook.
“Mmm…Gue duluan ya?”Kata Mischa mengakhiri
pembicaraan.
“Ahh?? Iya. Gue juga ada urusan. Sampai ketemu lagi
yaa??”Jawab Fiandra.
Mereka
saling bertukar senyuman manis sambil beranjak meninggalkan masing-masing.
Mischa
yang menuju ke apartmentnya masih tetap tersenyum sampai…
*tettttt
“Astaga!!!”Kata Mischa spontan yang mendengar
klakson mobil dari arah sampingnya.
“What do you think, daughter?”Kata Bapak yang ada
dalam mobil itu.
“Sorry sir, I’m so sorry!!”
Mischa
melanjutkan langkahnya menuju apartmentnya lagi dengan lebih hati-hati.
Nampaknya,
Mischa mempunyai perasaan pada lelaki yang baru saja dia kenal itu.
“Kok Gue kepikiran Fiandra mulu yaa??”Kata Mischa
pada dirinya sendiri sambil tersenyum manis membayangkan wajah cool Fiandra.
Sesampainya
di depan pintu apartmentnya, Mischa berusaha membuka pintunya, namun tak bisa,
tiba-tiba…
*duaarrgghhh
Pintu
itu terbuka dengan suara yang keras. Mischa pun kaget melihat itu. Dengan
hati-hati, Mischa melangkahkan kaki ke dalam ruangan yang gelap itu, dan…
“Happy Birthday Almischara Reika!!”Sorak beberapa
orang yang ternyata adalah teman-teman Mischa dari Indo yang menyempatkan ke LA
untuk merayakan ultahnya.
“Laura? Momo? Cella?”Kata Mischa dengan ekspresi
kaget.
“Ayo masuk!! Kami punya kejutan buat Lo!!”Kata
Momo.
“Haa??”
“Pakai ini!!”Kata Cella sambil menutup mata
Mischa dengan sehelai kain hitam.
Beberapa
saat kemudian, Cella membuka kain yang menutup mata Mischa. Dan…
“Aldo!! Ngapain Lo kesini?”Tanya Mischa pada
mantan kekasihnya itu.
“Gue Cuma pengen ketemu Lo…”
“Gue gak butuh Lo!! Urus aja Mella!! Pergi dari sini!!”Usir Mischa pada Aldo.
“Gue gak butuh Lo!! Urus aja Mella!! Pergi dari sini!!”Usir Mischa pada Aldo.
“Apaa??”Aldo tertegun.
“Setelah Lo nyakitin hati Gue, apa lo gak malu
ketemu Gue? Hah?”
“Gue minta maaf…”Kata Aldo pelan.
“Munafik!! Laura? Cella? Gue kecewa sama kalian!!”Kata Mischa marah.
“Munafik!! Laura? Cella? Gue kecewa sama kalian!!”Kata Mischa marah.
“Scha!! Ini buat Lo!!”Jawab Aldo sambil
memberikan sebuah kado bertuliskan “HBD
My 6 August Lady”.
Mischa
pun mengambil hadiah itu dan langsung meninggalkan tempat itu.
“Mischa!! Lo mau kemana?? Balik Scha!! Jangan
pergi!!”Teriak Aldo yang masih sangat menyayangi Mischa.
Mischa
pergi ke taman dekat dengan apartmentnya. Dan duduk di bangku dekat air mancur.
Dia menangis melihat bingkisan kecil dari Aldo yang sebenarnya masih ia sayang.
“Maafin Gue, Aldo…”
Seseorangpun
datang menghampiri Mischa dengan memberikan sebuah sapu tangan berwarna merah
tua yang tak lain adalah Fiandra.
“Lo kenapa nangis?”Tanya Fiandra.
“Fiandra? Lo ngapain kesini?”Kata Mischa sambil mengusap air matanya.
“Fiandra? Lo ngapain kesini?”Kata Mischa sambil mengusap air matanya.
“Pakai ini, sayang sama air mata Lo…”Jawab
Fiandra sambil tersenyum.
“Makasih…”Jawab Mischa sambil mengambil sapu
tangan pemberian Fiandra.
“Lo kok nangis sih?”
“Nggak papa…”
“Happy Birthday…”Kata Fiandra sambil menyodorkan tangannya.
“Happy Birthday…”Kata Fiandra sambil menyodorkan tangannya.
“Darimana lo…??”
“Dari bingkisan Lo… hehe”
“Dari bingkisan Lo… hehe”
“Oh… haha :D”
Mereka
pun berbincang-bincang. Terlihat wajah mereka merona-rona saking bahagianya.
“Lo bisa kok cerita sama Gue…”Kata Fiandra.
“Haa?? Oh, iyyaa… Tapi Lo juga yaaa??”
“Kalo boleh tau, Lo punya pacar??”
*DEGGGGG!!
Part4
Hati Mischa langsung berdebar-debar ketika
Fiandra menanyakan itu.
“Gu…gue?”Tanya Mischa.
“Iyaa…”
“Gak punya… Gue jomblo.”
“Sama dong, Gue juga.”Kata Fiandra dengan riang.
“Gu…gue?”Tanya Mischa.
“Iyaa…”
“Gak punya… Gue jomblo.”
“Sama dong, Gue juga.”Kata Fiandra dengan riang.
“Mmmm…”
Semua
berlangsung senyap. Mereka saling diam, namun sesekali saling menatap satu sama
lain.
“Gue kesana bentar ya?”Kata Fiandra.
“Hmm…”Mischa mengangguk.
Beberapa
saat kemudian…
“Ini buat lo,”Kata Fiandra sambil memberikan segelas
Chocolate Milkshake yang baru saja dibelinya.
“Makasih…”
“Apa lo gak mau cerita soal kenapa Lo nangis tadi?”
“Makasih…”
“Apa lo gak mau cerita soal kenapa Lo nangis tadi?”
“M… Gue ketemu sama mantan Gue. Dia selingkuhin
Gue. Dan kami putus.”Jawab Mischa singkat.
“Itu belum seberapa…”
“Emangnya masalah Lo kayak gimana??”
“Di Indonesia, Gue dibilang aneh, dibilang abnormal sama orang-orang. Orangtua Gue malu, sekolahin Gue di sini biar gak dihina lagi. Dan, mereka bilang, Gue gak boleh pulang kalo Gue belum berubah.Tapi…” Mata Fiandra berlinang air mata dan suaranya bergetar.
“Aneh? Kenapa Lo dibilang aneh?”
“Entahlah…”
“Dan sekarang, apa Lo pengen berubah biar bisa pulang dan ketemu orangtua Lo?”
“Gak, Gue lebih seneng disini…”
“Tapi kan…”
“Gue dari SMP dikucilkan… Dan itu yang buat Gue sakit hati…”
“Emangnya masalah Lo kayak gimana??”
“Di Indonesia, Gue dibilang aneh, dibilang abnormal sama orang-orang. Orangtua Gue malu, sekolahin Gue di sini biar gak dihina lagi. Dan, mereka bilang, Gue gak boleh pulang kalo Gue belum berubah.Tapi…” Mata Fiandra berlinang air mata dan suaranya bergetar.
“Aneh? Kenapa Lo dibilang aneh?”
“Entahlah…”
“Dan sekarang, apa Lo pengen berubah biar bisa pulang dan ketemu orangtua Lo?”
“Gak, Gue lebih seneng disini…”
“Tapi kan…”
“Gue dari SMP dikucilkan… Dan itu yang buat Gue sakit hati…”
Fiandra
menyandarkan kepalanya di pundak Mischa.
“Lo yang sabar yaa??”Kata Mischa menenangkannya.
Di
lain sisi, Mischa cukup gembira karena menemukan teman curhat yang ideal
untuknya.
“Apa Gue bener-bener aneh?”Tanya Fiandra.
Part 5
“Enggak, Lo normal kok. Sama kayak Gue.”
“Benarkah? Itu cukup menghibur…”Kata Fiandra sambil memandang Mischa.
“Benarkah? Itu cukup menghibur…”Kata Fiandra sambil memandang Mischa.
Mischa tersenyum dan mengangguk.
“Udah hampir petang, Gue harus pulang.”Kata
Mischa.
“Pulanglah… Apartment Lo dimana?”
“Di Losternike Apartment no.44, Lo?”
“Gue di Morlession Apartment no.12. Gue boleh berkunjung gak?”
“Boleh…”Kata Mischa sambil beranjak meninggalkan tempat itu.
“Pulanglah… Apartment Lo dimana?”
“Di Losternike Apartment no.44, Lo?”
“Gue di Morlession Apartment no.12. Gue boleh berkunjung gak?”
“Boleh…”Kata Mischa sambil beranjak meninggalkan tempat itu.
Berhari-hari
kemudian, mereka semakin dekat. Fiandra pun sering menjemput Mischa untuk
berangkat kuliah bersama. Keduanya mempunyai perasaan yang sama, Cinta. Namun,
mereka belum saling mengungkapkannya.
S K I P
Pagi
itu, Mischa sedang menikmati Pizza di apartmentnya, tiba-tiba Fiandra datang.
“Mischa!! Ayo cepat!!”Kata Fiandra.
“Mischa!! Ayo cepat!!”Kata Fiandra.
“Kemana? Duduklah dan makan sama Gue.”
“Gue gak lapar… Ayo!!”Fiandra menarik tangan Mischa dan mengajaknya ke sebuah tempat.
“Gue gak lapar… Ayo!!”Fiandra menarik tangan Mischa dan mengajaknya ke sebuah tempat.
Sesampainya
di sana, betapa terkejutnya Mischa melihat sebuah hasil graffiti yang berupa
wajahnya.
“A…apa itu Gue?”Tanya Mischa.
“Ya… Bagus gak?”
Mischa mengangguk.
Mischa mengangguk.
“Berdiri di sana…”Kata Fiandra menyuruh Mischa
untuk berdiri di samping graffiti tersebut.
Mischa
hanya menurut dan,
*ckreckk
“Hei! Gue belum siap!! Ulangi sekali lagi!”Pinta Mischa pada Fiandra untuk memotretnya sekali lagi.
*krekkkk
“Hei! Gue belum siap!! Ulangi sekali lagi!”Pinta Mischa pada Fiandra untuk memotretnya sekali lagi.
*krekkkk
“Udah, lebih cantik yang di graffiti…”Kata
Fiandra pelan.
“Benarkah?”
“Tenang, Lo seribu kali lebih cantik kok… hehe”
“Benarkah?”
“Tenang, Lo seribu kali lebih cantik kok… hehe”
“Bisa aja!! Kesini! Kita harus punya foto
berdua…”
Mereka
pun berfoto ria. Fiandra tampak bahagia. Sudah lama sekali Fiandra tidak
merasakan hal seperti ini.
“Mischa? Mau gak Lo jadi pacar Gue?”Kata itu
tiba-tiba terlontar dari bibir Fiandra.
Mischa kaget karenanya dan langsung diam. Pipinya
merah merona dan hatinya berdetak cepat.
“Mischa? Aishiteru…”Kata Fiandra lagi.
“Maaf, Gue gak bisa dra… Maafin Gue…”Jawab Mischa.
“Maaf, Gue gak bisa dra… Maafin Gue…”Jawab Mischa.
“Mm… Iya. Gak papa. Gu…Gue pulang duluan ya… Gue
ada urusan. Makasih.”
Fiandra
membalikkan badannya dan melangkah pergi dari tempat itu.
Part 6
Namun Mischa menarik
tangannya dan berkata,
“Ayolah!! Gue gak bisa nolak… Gue juga sayang
sama Lo dra…”
“Lo serius? Lo nerima Gue? Sekarang kita
jadian?”Tanya Fiandra.
Mischa mengangguk.
“Tapi… Lo janji gak bakal ninggalin Gue dan nerima Gue apa adanya?”Tanya Fiandra lagi.
“Tapi… Lo janji gak bakal ninggalin Gue dan nerima Gue apa adanya?”Tanya Fiandra lagi.
“Iya sayang…”
“Walau Lo tau sisi terburuk dari Gue?”
“Menurut Gue, Lo gak ada sisi buruknya… Amazing Totally…”
“Walau Lo tau sisi terburuk dari Gue?”
“Menurut Gue, Lo gak ada sisi buruknya… Amazing Totally…”
Mereka
pun berpelukan dan saling membisikkan kata-kata indah. Kemudian, mereka pergi
jalan-jalan ke Bourdoun Restaurant. Di sana mereka memesan makanan khas dari
berbagai Negara. Berbeda dengan Mischa yang memilih makanan Italia, Fiandra
memilih makanan khas Indonesia. Ya, seporsi nasi goreng dan sate ayam pedas.
Mereka makan-makan di sebuah meja putih dekat jendela restaurant.
“Makasih udah mau jadi pacar Gue…”Kata Fiandra
mengawali pembicaraan.
“Sama-sama. Gue udah suka Lo sejak awal kita
ketemu…”
“Benarkah?”
“Iya. Menurut Gue, sifat Lo itu lembut. Kayak cewek. Hehe”
“Apa Gue bersifat lembut kayak seorang cewek? Mungkin itu karena…”
“Benarkah?”
“Iya. Menurut Gue, sifat Lo itu lembut. Kayak cewek. Hehe”
“Apa Gue bersifat lembut kayak seorang cewek? Mungkin itu karena…”
Kata-kata
Fiandra terpotong. Mischa yang menantikan kalimat selanjutnya, menjadi sangat
penasaran.
“Karena apa?”Tanya Mischa.
Part 7
“Karena… Karena Gue sayang sama Lo…”Jawab
Fiandra.
“Terimakasih… Gue akan selalu sayang sama Lo,
sampai kapanpun…”
Setelah
semua hidangan habis, Fiandra mengantar Mischa ke apartmentnya.
Sesampainya
di pintu apartment…
*cupppp
“Bye-Bye sayang…”Kata Fiandra yang sebelumnya
mengecup kening Mischa.
“Iya. Hati-hati di jalan sayang…”Kata Mischa
sambil mengusap kepala Fiandra yang tersenyum manis di depannya.
Fiandra
pun meninggalkan Mischa dan Mischa masuk ke ruangannya.
“Hmmm… Soooo good day for me. Thanks God!!”Gumam
Mischa.
Mischa
pun meraih diary booknya dan menuliskan sesuatu di dalamnya,
“ Dua Puluh
Delapan Agustus
Dear Diary,
Hari ini,
hari jadian Gue sama Fiandra. Gue sayang banget sama dia, dan Gue akan selalu
sayang dan jaga dia.
Gue suka sifatnya
yang lemah lembut, terkadang, Gue ngerasa kayak bareng seorang cewek kalo lagi
sama dia. Gak tau kenapa. Tapi apapun itu, Gue akan berusaha menerima dia apa
adanya.
Terimakasih Tuhan, atas apa yang Engkau berikan pada hamba hari ini…”
Terimakasih Tuhan, atas apa yang Engkau berikan pada hamba hari ini…”
Mischa
menaruh kembali Diary Booknya di tempat semula dan merebahkan diri ke tempat
tidurnya. Namun, beberapa saat kemudian…
*ddrrt drrtt
HPnya
bergetar pertanda ada panggilan masuk. Benar saja, telpon dari Fiandra,
kekasihnya.
“Halo, ada apa?”Tanya Mischa pada telepon
seberang.
“Sorry, Do you know the owner of this phone? He
got accident and He is getting hospitalize now at Elizabeth Hospital. Please
Come here. Thank you.”
Part 8
Panggilan langsung
terputus dan Mischa sangat shock dengan informasi tersebut. Hingga tak terasa,
air matanya jatuh begitu saja.
Ia langsung bergegas menuju Elizabeth Hospital
untuk memastikan info itu benar atau tidak.
Namun,
apa yang tidak diinginkannya akhirnya terjadi, Fiandra terkapar lemas dengan
banyak luka gores di tubuhnya.
Melihat
itu, lagi-lagi Mischa menangisinya. Dia tidak tega melihat orang yang
disayanginya terluka dan tak sadarkan diri. Mischa pun mengambil ponsel milik
Fiandra dan berniat untuk menghubungi orangtua Fiandra. Namun sia-sia, tak ada
nomor telepon atau apa saja yang berhubungan dengan orangtuanya. Nampaknya,
benar kata Fiandra, dia tidak berniat untuk kembali ke Indonesia.
“What the hell!! Anak ini gila!!”Kata Mischa yang
kesal tidak menemukan nomor telepon Ortunya Fiandra.
Kemudian,
Mischa memeriksa dompet Fiandra alih-alih mendapatkan sesuatu untuk dihubungi,
namun dia hanya mendapatkan Kartu Pelajarnya dan betapa terkejutnya Mischa
melihat sesuatu,
“
Name : Rizee Olivee
Gender : Female
”
Part 9
“A…apa ini? Ini gak mungkin!! Fiandra gak mungkin
cewek!! Gak mungkin!!”Kata Mischa yang kaget dengan kenyataan bahwa Fiandra
adalah seorang wanita bernama Rizee Olivee.
Beberapa
saat kemudian, Fiandra pun sadar dan memanggil nama Mischa,
“Mischa…Mischa…”
“Gue di sini Fiandra…”Jawab Mischa dan
berpura-pura seperti biasanya.
“Gue sayang Lo…”Rintih Fiandra pelan.
“Gu…Gue…ju…gaaaa…”Kata Mischa yang masih tidak
bisa menerima kenyataan.
“Lo kenapa nangis? Apa Lo benar-benar
mengkhawatirkan Gue?”
Mischa mengangguk pelan.
“Kalo Lo mau, Lo boleh pulang kok. Jangan
khawatirkan Gue, Gue udah biasa sendirian…”
“Iya. Gue pulang duluan yaa… Jangan lupa minum obat biar Lo cepet sembuh… Bye-bye…”Ucap Mischa.
“Iya. Gue pulang duluan yaa… Jangan lupa minum obat biar Lo cepet sembuh… Bye-bye…”Ucap Mischa.
“Iya… Hati-hati di jalan sayang…”
Setelah
Mischa pergi, Fiandra merasakan bahwa ada yang berbeda dari diri Mischa. Sangat
berbeda.
“Ada apa dengan Mischa? Kenapa dia sangat
berbeda?”Tanya Fiandra.
Beberapa
hari kemudian, Fiandra sembuh dan kembali pulang ke apartmentnya. Mischa
menemaninya di sana. Fiandra pun mencium kening Mischa.
“Fiandra, Gue boleh ngomong sesuatu?”Tanya Mischa
pelan.
“Apa Scha?”
“Kenapa Lo harus bohong sama Gue?”Tanya Mischa
lagi. Kali ini dengan air mata berlinang.
“Bohong?”
Part 1O
“Kenapa Rizee!! Gue udah sayang Lo banget! Gue udah terlanjur sayang ! Kenapa Lo gak bilang dari awal!!!”
“Kenapa Rizee!! Gue udah sayang Lo banget! Gue udah terlanjur sayang ! Kenapa Lo gak bilang dari awal!!!”
Mischa
menangis setelah itu. Dia sangat kecewa dengan Fiandra yang tak lain adalah
seorang wanita.
“Jadi Lo udah tau yang sebenarnya… Maafin Gue…”
“Gue… Gue gak bisa maafin Lo dra!! Lo
keterlaluan!! Apa Lo Cuma mau mainin perasaan Gue? Apa Gue Cuma jadi becandaan
Lo doang?”
“Scha!! Dengerin Gue!! Gue tahu Gue salah. Tapi,
mana janji Lo? Mana omongan Lo pas Lo janji bakal selalu ada buat Gue bahkan
kalo Lo tau sisi terburuk Gue?”
“Tapi… Lo gak bilang kalo Lo adalah seorang cewek dan seorang Lesbian dari awal!!”
“Kalo Gue ngasitau Lo, Gue gak bakal dapetin Lo!!”
“Arrrgghh!!”
“Jawab jujur, Lo sayang Gue kan!! Ayolah Scha!! Lo juga seorang Lesbian!! Kalo Lo normal, Lo pasti gak bakal nerima Gue dan ngebiarin Gue cium Lo!!”
“Lo hanya pelarian Gue aja!! Mulai sekarang, kita PUTUS!!!”
“Apa lo bilang??”
“Tapi… Lo gak bilang kalo Lo adalah seorang cewek dan seorang Lesbian dari awal!!”
“Kalo Gue ngasitau Lo, Gue gak bakal dapetin Lo!!”
“Arrrgghh!!”
“Jawab jujur, Lo sayang Gue kan!! Ayolah Scha!! Lo juga seorang Lesbian!! Kalo Lo normal, Lo pasti gak bakal nerima Gue dan ngebiarin Gue cium Lo!!”
“Lo hanya pelarian Gue aja!! Mulai sekarang, kita PUTUS!!!”
“Apa lo bilang??”
Mischa
pun pergi meninggalkan Fiandra dengan mata merah karena tak dapat menahan
kesedihan hatinya.
Beberapa
hari kemudian…
Part 12
Fiandra yang hanya bisa menerima keputusan
Mischa, terlihat sangat kacau. Dia pun menyadari kesalahannya. Namun, inilah
dia. Dia adalah seorang Lesbian yang sangat mencintai Mischa.
Di
lain sisi, Mischa juga Nampak kacau. Dia sering tidak masuk kuliah dan sering menyendiri
di taman tempatnya dulu sering bersama Fiandra.
Suatu
hari, ketika Fiandra duduk di bangku taman, Mischa datang dan memberikan
setangkai bunga Rouserenni.
“Gue gak bisa lupain Lo…”Kata Mischa yang
selanjutnya memeluk Fiandra.
“Apa sekarang Lo udah bisa nerima keabnormalan Gue?”Tanya Fiandra.
Mischa mengangguk.
“Apa sekarang Lo udah bisa nerima keabnormalan Gue?”Tanya Fiandra.
Mischa mengangguk.
“Gue sadar, Gue gak bisa ngontrol pada siapa Gue
akan jatuh cinta. Dan ketika itu jatuh pada Lo, Gue awalnya berontak, tapi
inilah Gue, Gue sama kayak Lo… Lesbian…” Kata Mischa sambil memeluk Fiandra.
Mereka
pun berpelukan dan balikan lagi. Mereka sadar, cinta mereka terlarang, namun,
siapa yang bisa mengontrol dan menahan perasaan?
THE END.
