Venus. Pernahkah kalian berfikir tentang Venus? Kali ini, yang aku maksud bukan Venus seperti gambar di atas, melainkan hanya sebuah perumpamaan untuk seorang gadis cantik (Yah, walau cantik itu relatif. Dan editor foto itu alternatif.) Yah. Anggap saja nama gadis itu Venus.
Venus, dulunya dekat dengan pria bernama Uranus. Mereka saling bertegur sapa, memperhatikan, saling menanyakan hobi dan kesukaan masing-masing. Tapi, saat itu, Venus tidak sadar akan perhatian lebih itu. Ia hanya mengira bahwa Uranus hanya sekedar dekat dengannya. Jadi, ia memutuskan untuk menjauhi Uranus. Ia menjauhinya tanpa sebab musabab. Menjauhi Uranus begitu saja.
Waktu berlalu, Uranus benar-benar semakin menjauhi orbit Venus. Ia bahkan menikmati kesendiriannya tanpa sosok Venus yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Hingga suatu saat, Venus tiba-tiba merindukan sosok Uranus. Setiap malam, saat Venus memandangi bulan, ia hanya bertanya-tanya, "Ke mana Uranus? Apakah Uranus membenciku?"
Venus tidak sadar. Dirinyalah yang membuat jarak antara mereka. Dan ketika Venus menyadarinya, ia tertegun. "Apa yang telah aku lakukan? Apakah aku begitu jahat pada Uranus? Apakah aku dulu menyia-nyiakannya?"
Pertanyaan itu berkali-kali menembus pikiran Venus. Ia telah menyia-nyiakan Uranus! Dan sekarang, ketika Uranus benar-benar membangun tembok penghalang antara mereka, di situlah Venus menangisi Uranus. Ia telah salah menilai laki-laki itu!
Apa yang akan ia lakukan sekarang? Di saat Uranus telah berubah menjadi dingin! Sedingin es batu!
Dan sekarang, melihat setiap inchi kegiatan Uranus yang ia pantau dari desktop PCnya, Venus hanya menyesali perbuatannya. Uranus telah bahagia bersama wanita lain. Dan itu, menyesakkan dada Venus.
Uranus, bisakah aku kembali padamu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar